MOROWALI,Brita.id– Direktur Komunikasi PT IMIP, Emilia Bassa Emilia menjelaskan, sebagai kawasan industri berbasis nikel terbesar di Asia Tenggara, IMIP telah tumbuh pesat sejak penandatanganan MoU pada 2013, mulai beroperasi 2015, dan uji coba produksi pada 2018.
Sejak 2024, kawasan ini telah aktif mengolah berbagai produk hilir dengan melibatkan lebih dari 30 tenant industri.
IMIP juga terus mendorong penggunaan energi baru terbarukan, pengurangan emisi karbon, serta pengembangan klaster Electric Vehicle (EV) sebagai bagian dari komitmen hilirisasi industri nikel.

“Tahun 2024, kontribusi pajak IMIP untuk negara tercatat mencapai Rp17 triliun. Bahodopi bukan hanya menjadi pusat industri, tapi juga titik vital penopang kehidupan ekonomi Sulawesi Tengah dan Indonesia,” jelas Emilia di hadapan wartawan yang mengikuti media tour 2025 di kawasan PT IMIP.(bus/jir)








