MOROWALI,Brita.id– Kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus menjadi penggerak utama ekonomi Sulawesi Tengah dengan kontribusi signifikan terhadap ekspor, investasi, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Sektor industri pengolahan di Kabupaten Morowali tercatat mendorong surplus neraca perdagangan Sulawesi Tengah (Sulteng), sekaligus menciptakan dampak berganda bagi perekonomian lokal, mulai dari peningkatan aktivitas usaha, mobilitas tenaga kerja, hingga potensi penerimaan pajak daerah.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulteng, Andi Irman, mengatakan bahwa meskipun struktur ekonomi daerah tidak sepenuhnya bergantung pada industri, hilirisasi mineral berbasis nikel telah mengubah pola ekonomi dari berbasis bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi.
“Nilai ekspor tinggi terutama berasal dari kawasan industri di Morowali dan Morowali Utara sebagai pusat produksi logam berbasis nikel untuk pasar global,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (31/3/2026).
Sepanjang 2025, kinerja perdagangan luar negeri Sulteng menunjukkan tren positif. Nilai ekspor tercatat mencapai USD 22,32 miliar atau tumbuh 5,14 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD 21,22 miliar.
Sementara itu, impor meningkat menjadi USD 11,31 miliar, didominasi oleh bahan baku dan barang modal untuk kebutuhan industri.
Dominasi ekspor Sulteng berasal dari aktivitas industri di Morowali. Pelabuhan Bahodopi dan Morowali mencatat nilai ekspor gabungan sebesar USD 18,08 miliar atau sekitar 81 persen dari total ekspor daerah.
Dari sisi komoditas, ekspor didominasi produk besi dan baja dengan pangsa 61,31 persen, disusul nikel sebesar 16,59 persen.
Produk turunan seperti stainless steel dan mixed hydroxide precipitate (MHP) kini menjadi andalan ekspor, terutama untuk kebutuhan industri baterai kendaraan listrik global.
Meski harga nikel dunia mengalami penurunan hingga 40,82 persen sejak 2022, kinerja ekspor Sulteng tetap tumbuh 17,41 persen dalam tiga tahun terakhir. Hal ini menunjukkan daya tahan sektor industri pengolahan di tengah dinamika pasar global.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulteng memproyeksikan prospek perdagangan luar negeri tetap positif dalam tiga tahun ke depan, didorong permintaan global, khususnya dari Tiongkok sebagai mitra dagang utama.
Di sisi lain, peningkatan impor menjadi indikator ekspansi industri. Data menunjukkan impor bahan baku mencapai USD 8,82 miliar atau 79 persen dari total impor, sementara impor barang modal naik 14,4 persen menjadi USD 2,33 miliar.
Kebutuhan tersebut digunakan untuk mendukung operasional 52 perusahaan di kawasan IMIP.
Kontribusi Morowali terhadap perekonomian regional juga sangat signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kabupaten Morowali menyumbang 47,6 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulteng.
Pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi Morowali tercatat sebesar 10,81 persen, menjadikannya salah satu yang tertinggi di wilayah Sulteng.
Secara keseluruhan, ekonomi Sulteng tumbuh 8,47 persen, melampaui rata-rata nasional sebesar 5,11 persen.
Bank Indonesia Sulteng memproyeksikan pertumbuhan ekonomi daerah pada 2026 tetap tinggi di kisaran 12 hingga 13 persen.
Sementara itu, total investasi di kawasan IMIP hingga Desember 2025 mencapai USD 41,483 miliar atau setara Rp696,91 triliun, meningkat signifikan dibandingkan tahun 2022 sebesar USD 29,6 miliar.
Deputi Direktur Operasional PT IMIP, Yulius Susanto, menyatakan bahwa peningkatan investasi tersebut sejalan dengan pertumbuhan aktivitas industri dan penyerapan tenaga kerja di kawasan industri.
“Ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor global terhadap ekosistem industri berbasis nikel terintegrasi di Morowali,” ujarnya.
Dengan tren positif tersebut, kawasan IMIP dinilai akan terus menjadi tulang punggung stabilitas ekonomi Sulawesi Tengah sekaligus penopang fiskal negara melalui peningkatan ekspor dan investasi.(ant/jir)








