Cetak Rupiah di Tengah Wabah Corona, Kisah Inspiratif Muchlas, Penjahit Masker Kain di Kota Palu

  • Whatsapp
TAMPAK Muchlas (32), Warga Palu Barat yang memilih menjadi tukang jahit masker di tengah wabah Virus Corona atau Covid-19.(foto:brita.id)

SEJUMLAH warga di Kota Palu, Sulawesi Tengah, saat ini memilih pekerjaan sebagai tukang jahit masker kain. Hal itu mereka lakukan seiring tingginya permintaan masker di wilayah tersebut dalam satu bulan terakhir.

Penulis: AMAT BANJIR

Rabu siang (1/4/2020), suara mesin jahit terdengar lantang dari dalam salah satu rumah warga Jalan Nenas II, Kelurahan Kamonji, Kecamatan Palu Barat. Di dalam rumah, tampak Muchlas (32), tengah sibuk menjahit lipatan kain yang telah dipotong persegi panjang. Kain dengan beberapa varian warna itu merupakan bahan untuk pembuatan masker kain.

Dimana sudah hampir se bulan, Muchlas yang mengikuti imbauan di rumah saja, memilih pekerjaan barunya, sebagai tukang jahit masker kain.

Awalnya ia hanya menjahit beberapa lembar masker kain untuk keperluan keluarga, dalam upaya menangkal Virus Corona atau Covid-19.

“Awalnya saya kesulitan mencari masker, dan akhirnya memutuskan menjahit masker untuk keperluan keluarga,” ungkap Muchlas di kediamannya, Rabu.

Namun seiring berjalannya waktu, dirinya mulai mendapat pesanan dari beberapa orang rekannya.

Setelah mencermati nilai ekonomis dari hasil penjualan masker, Muchlas yang sehari-harinya merupakan peternak unggas jenis Ayam Bangkok, memutuskan untuk produksi masker dalam skala yang lebih besar.

Dimana dengan menggunakan mesin jahit manual, dirinya mampu membuat ratusan lembar masker kain per hari.

Muchlas mengaku, pemasaran masker kain tidak begitu sulit, selain dititipkan ke beberapa lapak kios warga, masker ini juga ia jual secara online lewat media sosial Facebook “Mukhlas Bend”.

“Pesanannya lebih banyak lewat Facebook, sisanya kami titip di beberapa warung dan kios di Kota Palu,” ungkap Muchlas.

Satu lusin atau 12 lembar masker kain dibandrol harga Rp60.000, namun jika pengambilan per satu lembar, harganya Rp7.000 hingga Rp8.000.

Dalam sepekan, Pemuda yang akrab disapa Mas Bend itu mengaku, dapat meraih omset penjualan hingga jutaan rupiah.

Meskipun tidak memiliki label standar kesehatan, namun Muchlas dan beberapa pengrajin masker lainnya, berkeyakinan masker kain buatannya dapat menjadi filter bakteri dan debu yang akan masuk ke sistem pernapasan manusia.

“Intinya masker ini sebagai pelindung debu dan benda asing lainnya yang akan masuk ke mulut dan hidung,” tutur Ambo (63), pengerajin masker kain lainnya di Jalan I Gusti Ngurah Rai, Kecamatan Tatanga, Kota Palu.

Sementara untuk memuaskan konsumennya, Muchlas dan pengrajin masker lainnya terus berinovasi, salah satunya dengan membuat masker khusus wanita berhijab dengan bahan kain yang cukup tebal.

Trend peningkatan pembelian masker di Kota Palu mulai terjadi signifikan saat pemerintah mulai mengumumkan adanya warga Indonesia yang terjangkit Virus Corona.

Data resmi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menunjukan, hingga Rabu sore, 1 April 2020 jumlah positif Virus Corona di wilayah itu masih berjumlah 2 orang. Sementara Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 26 orang dan Orang Dalam Pengawasan (ODP) 121 Orang, meninggal dunia 1 Orang.(**)

 

Related posts