13 Tahun IMIP dan Jejak Panjang Hilirisasi Nikel di Bahodopi

  • Whatsapp

BAHODOPI hari ini bukan lagi kecamatan kecil yang hanya dikenal karena hamparan tambang dan kampung-kampung yang berjauhan. Di kawasan ini, aktivitas industri berlangsung nyaris tanpa jeda.

Cerobong dan fasilitas pengolahan berdiri di antara permukiman, kendaraan pekerja hilir-mudik mengikuti pergantian sif, sementara pelaku usaha lokal tumbuh mengikuti kebutuhan puluhan ribu orang yang bekerja di kawasan industri.

Perubahan itu berjalan beriringan dengan perjalanan 13 tahun PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), yang sejak awal berdiri menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan hilirisasi nikel Indonesia.

Hilirisasi membawa perubahan besar bagi Bahodopi. Bijih nikel yang sebelumnya identik dengan komoditas mentah kini diproses melalui rangkaian industri yang terintegrasi, dari pengolahan hingga menghasilkan berbagai produk turunan.

Klaster pertama merupakan stainless steel yang mengolah bijih nikel menjadi Nickel Pig Iron (NPI) hingga produk akhir stainless steel, seperti slab, hot rolled coil (HRC), dan cold rolled coil (CRC). Klaster ini menjadi salah satu basis produksi nikel dan baja nirkarat dalam satu kawasan.

Klaster kedua adalah carbon steel yang memproduksi baja karbon untuk memenuhi kebutuhan sektor konstruksi dan berbagai industri perkakas, baik untuk pasar nasional maupun global.

Sementara klaster ketiga bergerak pada komponen bahan baku baterai, yang mendukung ekosistem kendaraan listrik, termasuk material untuk katoda dan anoda baterai litium-ion.

Rantai industri itu kemudian diperkuat berbagai fasilitas penunjang, mulai dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pabrik bahan kimia pendukung seperti silikon, mangan, kapur dan kokas, hingga pelabuhan serta bandara khusus.

Semua tumbuh dalam satu kawasan yang sebelumnya belum memiliki wajah industri seperti sekarang.

Data HR Department PT IMIP menunjukkan pertumbuhan pekerja di kawasan tersebut berlangsung sangat cepat. Pada 2020, jumlah tenaga kerja tercatat 35.592 orang.

Setahun kemudian jumlahnya meningkat menjadi 51.542 orang. Pada 2022 mencapai 68.466 orang, kemudian 74.350 orang pada 2023.

Pada 2024, jumlah pekerja berada di kisaran 83.000 orang. Angka itu kembali meningkat menjadi 86.804 orang pada 2025.

Hingga September 2026, jumlah karyawan di kawasan IMIP telah mencapai 100.310 orang, terdiri atas 91.904 laki-laki dan 8.406 perempuan.

Pertumbuhan tersebut bukan sekadar angka dalam laporan perusahaan. Puluhan ribu pekerja berarti munculnya kebutuhan terhadap makanan, tempat tinggal, transportasi, perdagangan, jasa, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari.

Dari sinilah aktivitas industri kemudian menjalar ke ekonomi masyarakat sekitar.

Pada 2025, ketika jumlah pekerja mencapai 86.804 orang, estimasi perputaran uang di Bahodopi diperkirakan mencapai Rp499,1 miliar setiap bulan, atau sekitar Rp5,9 triliun dalam setahun.

Uang yang berputar itu menghidupkan sektor ekonomi di luar pagar kawasan industri.

Warung makan, kios, tempat tinggal, jasa transportasi, perdagangan hingga usaha kecil lainnya mendapatkan pasar baru dari pertumbuhan jumlah pekerja.

Head of Media Department PT IMIP, Dedy Kurniawan, mengatakan pertumbuhan kawasan industri turut mendorong perkembangan sektor usaha di Bahodopi.

Riset yang dikutip IMIP mencatat lima jenis UMKM terbanyak di Bahodopi, yakni Kios Pertamini sebanyak 981 unit, stan minuman 735 unit, stan makanan nonbangunan 670 unit, kios umum 648 unit, dan warung makan 591 unit.

Sebagian besar masih berada pada kategori usaha mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun.

Namun, pertumbuhan jumlah usaha tersebut menunjukkan adanya ruang bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang seiring membesarnya aktivitas ekonomi kawasan.

“Pertumbuhan kawasan yang begitu masif, turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang. Riset mencatat lima jenis UMKM terbanyak di Bahodopi, antara lain Kios Pertamini, stan minuman, stan makanan non-bangunan, kios umum, dan warung makan,” kata Dedy Kurniawan, Jumat (2/10/2026).

Bagi IMIP, keberadaan usaha-usaha tersebut merupakan bagian dari ekosistem yang tumbuh bersamaan dengan industri.

Sebab, kawasan industri tidak berdiri sendiri. Di belakang aktivitas produksi terdapat kebutuhan terhadap jasa logistik, kontraktor, penyedia makanan, hunian, transportasi, perdagangan dan berbagai layanan lainnya.

Dampak pertumbuhan industri juga terlihat pada skala ekonomi Sulawesi Tengah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah, Muhamad Irfan Sukarna, dalam laporan keuangan Provinsi Sulawesi Tengah Februari 2026, mencatat ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2025 tumbuh 9,43 persen secara tahunan (yoy).

Pertumbuhan itu meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 7,79 persen.

“Kinerja pertumbuhan ekonomi Sulteng ditopang oleh dominannya peran industri pengolahan berbasis nikel, pertambangan dan penggalian dalam struktur ekonomi daerah,” tulis Muhamad Irfan Sukarna dalam laporannya.

Angka tersebut menggambarkan bagaimana industri berbasis sumber daya alam tidak lagi berhenti pada aktivitas ekstraksi. Pengolahan mineral menjadi bagian penting dari struktur ekonomi daerah..

Dari kawasan yang sebelumnya didominasi aktivitas pertambangan, kini muncul rantai industri yang menghubungkan bahan baku, energi, pengolahan, logistik hingga produk hilir.

Di salah satu sudut kantor Kecamatan Bahodopi, terdapat sebuah peta yang dibuat pada 2009.

Peta itu memperlihatkan Bahodopi dalam wajah yang berbeda. Ilalang dan pepohonan mendominasi. Kampung-kampung kecil ditandai dengan lingkaran, sementara jalan digambarkan dengan garis putus-putus.

Tidak ada simbol smelter, pelabuhan, bandara khusus maupun kompleks industri yang kini menjadi bagian dari keseharian Bahodopi.

Dari jendela kantor yang sama, perubahan itu terlihat jelas.

Jalan yang dahulu hanya berupa garis putus-putus kini telah menjadi jalur aspal yang ramai dilalui kendaraan. Truk pengangkut material bergerak mengikuti aktivitas industri. Sepeda motor pekerja memenuhi jalan saat pergantian sif.

Di kejauhan, fasilitas pengolahan berdiri dengan aktivitas mesin yang berlangsung siang dan malam.

Peta itu akhirnya bukan lagi representasi Bahodopi hari ini. Ia menjadi semacam penanda tentang seberapa jauh perubahan terjadi dalam kurun waktu 17 tahun.

Dan sebagian perubahan tersebut berlangsung dalam 13 tahun perjalanan IMIP.

Sejak awal, pembangunan kawasan industri tidak hanya diarahkan untuk membangun fasilitas pengolahan mineral.

IMIP juga membangun ekosistem yang melibatkan banyak pihak di luar perusahaan. Para kontraktor daerah, penyedia logistik, perajin, pelaku UMKM kuliner, pemilik hunian dan berbagai penyedia jasa ikut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi di sekitar kawasan.

Dalam konteks itulah, 13 tahun perjalanan IMIP menjadi cerita tentang lebih dari sekadar pembangunan smelter.

Ia adalah cerita tentang bagaimana hilirisasi mengubah ruang, menciptakan lapangan kerja, memperbesar perputaran ekonomi dan memunculkan jenis-jenis usaha baru di tengah masyarakat.

Jika dahulu batas antara kampung, jalan dan kawasan hutan begitu jelas, kini semuanya terhubung oleh aktivitas ekonomi yang bergerak sepanjang hari.

Hilirisasi yang dimulai dari pengolahan bijih nikel akhirnya membentuk rantai yang jauh lebih panjang: dari pabrik menuju pekerja, dari pekerja menuju warung dan hunian, dari pelaku usaha menuju masyarakat, lalu kembali menjadi bagian dari roda ekonomi kawasan.

Tiga belas tahun kemudian, cerita IMIP di Bahodopi bukan lagi sekadar tentang apa yang dibangun di dalam kawasan industri.

Tetapi juga tentang bagaimana pembangunan itu ikut mengubah kehidupan di luar pagar kawasan.(jir)

Pos terkait