JELANG sore, suara tawa anak-anak mulai memenuhi kawasan Sidaya di Desa Labota, Kecamatan Bahodopi. Di sebuah bangunan sederhana yang dikenal sebagai Rumah Literasi Sidaya, mereka datang membawa buku, alat tulis, hingga rasa ingin tahu yang besar. Ada yang belajar bahasa Inggris, ada yang berlatih musik, sementara yang lain sibuk membaca dan berdiskusi bersama teman-temannya.
OLEH: Andy Admiral
Tempat ini bukan sekadar ruang belajar. Rumah Literasi Sidaya telah menjadi oase bagi anak-anak dan orang tua di tengah pesatnya perkembangan kawasan industri di Bahodopi.
Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menghadirkan Rumah Literasi sebagai wadah pendidikan nonformal yang tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan memberikan ruang aman bagi generasi muda.

Education Program Staff CSR Department PT IMIP, Agista Ayu Tansyania, mengatakan perubahan paling nyata justru terlihat dari kebiasaan anak-anak setelah pulang sekolah.
“Dulu orang tua bingung anak mereka pergi ke mana setelah pulang sekolah. Sekarang banyak yang langsung mencari ke Rumah Literasi karena mereka tahu anak-anak sedang mengikuti kegiatan positif di sini,” ujarnya, Jumat (26/6/2026).
Program ini lahir dari hasil asesmen lapangan yang dilakukan Departemen CSR PT IMIP pada 2023. Berbekal masukan masyarakat dan para guru, perusahaan kemudian menyusun kurikulum pembelajaran nonformal yang disesuaikan dengan kebutuhan warga Bahodopi.
Kini, manfaat Rumah Literasi tak hanya dirasakan masyarakat Desa Labota. Hingga pertengahan 2026, program tersebut telah berkembang ke Desa Bahomakmur dan Sombori.
Beragam kelas disediakan, mulai dari bahasa Inggris, Mandarin, musik, hingga tari tradisional. Sementara di Rumah Literasi Sombori, pembelajaran difokuskan pada program Calistung (baca, tulis, hitung) bagi anak-anak maupun orang dewasa sebagai bagian dari upaya mengurangi angka buta aksara.
Di tengah rendahnya minat baca masyarakat yang masih menjadi tantangan, tim CSR PT IMIP terus menghadirkan inovasi. Salah satunya melalui program hari baca mingguan, di mana peserta diajak membaca berita atau artikel, kemudian mendiskusikan isi bacaan bersama teman-teman mereka.
Menurut Agista, metode tersebut bukan hanya meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga melatih keberanian anak dalam menyampaikan pendapat, berdiskusi, dan menghargai pandangan orang lain.
“Di Rumah Literasi, anak-anak tidak hanya belajar. Mereka berdiskusi dan saling memberi masukan. Mereka juga bertemu teman-teman dari sekolah lain sehingga menjadi pribadi yang lebih berani, terbuka, dan percaya diri,” katanya.
Kehadiran Rumah Literasi Sidaya menjadi bukti bahwa pembangunan tidak selalu berbentuk gedung atau jalan. Investasi terbesar justru dimulai dari manusia.
Dengan menyediakan ruang belajar yang aman, kreatif, dan inklusif, PT IMIP berharap dapat ikut mencetak generasi muda Morowali yang lebih cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.
Di tengah dinamika kawasan industri yang terus berkembang, Rumah Literasi Sidaya menjadi pengingat bahwa masa depan daerah juga dibangun dari halaman-halaman buku yang dibaca anak-anak hari ini.(**)








