PALU, Brita.id– Kuratana Studio bersama Ruretik Lab menghadirkan pameran seni “Jejak Tanah: Bentang Berlanjut” di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Pameran karya seniman Lucky Arie dengan kurator Kukuh Ramadhan ini berlangsung hingga 4 Oktober 2026.
Pameran digelar di Rumah Tiara Coffee, BTN Mutiara Indah, Blok C No. 7, Jalan Angkasa, Kelurahan Birobuli Utara, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu.
Pameran berlangsung setiap hari pukul 16.00–22.00 WITA dan gratis untuk masyarakat umum.
“Jejak Tanah: Bentang Berlanjut” mempertemukan praktik sinema dengan tanah, tembikar, bentang alam, suara, serta pengetahuan yang hidup melalui tubuh.
Lucky Arie yang memiliki latar belakang sebagai sinematografer membawa pengetahuan tentang ruang, framing, perspektif, cahaya, atmosfer, gerak, dan durasi ke dalam proses pengolahan material tanah.
Dalam pameran tersebut, proses pembentukan tembikar dan sinema ditempatkan sebagai dua cara untuk melihat perubahan dan perpindahan pengetahuan. Pengalaman tentang citra kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bentuk material.
Karya yang ditampilkan menggunakan sejumlah medium, antara lain diorama fragmen bentang alam, visual loop photogrammetry 3D gua purba, video wawancara pengrajin tembikar khas Lembah Lore dan Palu, soundscape, geo stensil berupa jejak patahan purba, serta reparasi tembikar khas Lembah Lore.
Pameran ini juga mengangkat persoalan semakin jauhnya pengalaman manusia terhadap material akibat kehidupan yang banyak dimediasi layar. Lanskap tidak hanya dipahami sebagai citra atau data, tetapi juga sebagai sesuatu yang dialami melalui tubuh, ingatan, material dan pengetahuan.
Dalam proses penciptaannya, Lucky Arie juga melakukan perjumpaan dengan seorang perajin tembikar lanjut usia. Pertemuan tersebut menjadi bagian penting untuk melihat bagaimana pengetahuan mengenai pembuatan benda hidup melalui gerak, kebiasaan, pengalaman dan praktik yang diwariskan.
Pemilihan 28 September sebagai hari pembukaan juga berkaitan dengan pengalaman bencana Palu pada 28 September 2018. Delapan tahun setelah gempa, tsunami dan likuifaksi, pameran ini menjadi ruang untuk membicarakan kembali hubungan manusia dengan bentang alam, ingatan, material, tubuh dan pengetahuan.
Selain pameran, rangkaian kegiatan “Jejak Tanah: Bentang Berlanjut” mencakup sesi wicara, aktivasi komunitas, serta pertunjukan audio-visual.
Pada 30 September, digelar sesi diskusi bersama Adi Atmaja bertajuk “Posisi Maestro Dalam Formalisme RAB”. Kemudian pada 1 Oktober terdapat aktivasi komunitas bersama Ideketjil melalui kegiatan “Menjejak Jejak: Membaca Lanskap melalui Tanah Liat”.
Rangkaian kegiatan ditutup pada 4 Oktober dengan sesi diskusi bersama Kukuh Ramadhan bertajuk “Pseudosains Dalam Bentang Berlanjut”, tanya jawab, serta pertunjukan audio-visual.
Pameran ini terbuka bagi pelaku seni dan kebudayaan, komunitas film dan audiovisual, mahasiswa, akademisi, pengrajin, pekerja kebudayaan, komunitas lokal, anak-anak dan keluarga, serta masyarakat umum yang memiliki ketertarikan pada seni, sinema, material, lingkungan dan kebudayaan.(van/bus)








