Saat Ribuan Pekerja IMIP Jadi Nadi Ekonomi Bahodopi

  • Whatsapp

MOROWALI, Brita.id– Aktivitas kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) ikut menggerakkan perekonomian masyarakat di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Perputaran ekonomi tidak hanya terlihat dari aktivitas industri dan hilirisasi nikel, tetapi juga tumbuh melalui berbagai usaha masyarakat, mulai dari kedai kopi, layanan perbankan, hingga rumah kos.

Salah satunya Solusi Kopie milik Moh. Ahdiat atau Yudi (27) di Desa Keurea. Kedai tersebut dirintis pada 2021 dengan memanfaatkan bagian depan rumah kerabatnya.

Pada pekan pertama, usaha Yudi nyaris tidak memiliki pelanggan. Selain belum dikenal, keterampilan meracik kopi yang dimilikinya belum dibarengi dengan pengetahuan bisnis yang memadai.

Yudi kemudian memilih fokus mengembangkan usahanya dan mengorbankan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Selama sekitar dua tahun, pemuda asal Kaleroang, Kecamatan Bungku Selatan, itu menyusun visi dan misi usaha, membuat rencana bisnis jangka pendek dan panjang, hingga melakukan rebranding.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Solusi Kopie kini menjadi salah satu kedai yang ramai dikunjungi di Bahodopi.

Omzet kedai tersebut mencapai sekitar Rp120 juta hingga Rp150 juta per bulan. Jika konsisten, angka tersebut berpotensi mencapai Rp1,44 miliar dalam setahun.

Sekitar 80 persen pelanggan Solusi Kopie merupakan pekerja IMIP. Para pelanggan juga turut membantu promosi melalui media sosial.

“IMIP tutup, selesai kita,” ujar Yudi sambil berkelakar saat ditemui di kedainya pada akhir September 2026.

Menurut Yudi, perkembangan usaha kopi di Bahodopi menunjukkan bahwa pertumbuhan kawasan industri turut menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Ia berharap perkembangan Solusi Kopie dapat ikut mendorong industri kopi nasional sekaligus memperluas serapan hasil produksi petani kopi dari berbagai daerah.

Dampak aktivitas kawasan industri juga dirasakan Andi Azis Taba, pemilik Agen BRILink Kost Azis asal Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Azis mulai melihat peluang usaha di Bahodopi sejak sekitar satu dekade lalu. Ia awalnya membangun usaha kos-kosan sebelum melihat kebutuhan layanan transaksi perbankan seiring bertambahnya jumlah pekerja di kawasan industri.

Pada akhir 2016, Azis mengajukan diri menjadi agen BRILink dan mulai beroperasi pada Juli 2017.

Dari hanya tujuh transaksi pada hari pertama, kini dua gerai BRILink miliknya mampu melayani sekitar 2.000 hingga 2.500 transaksi per bulan dengan nilai transaksi mencapai Rp3 miliar hingga Rp4 miliar.

Transaksi biasanya meningkat pada periode pembayaran gaji karyawan. Kondisi itu bahkan membuat Azis beberapa kali harus mendatangi bank untuk menambah persediaan uang tunai.

Sekitar 60 hingga 70 persen pelanggan BRILink miliknya merupakan karyawan IMIP.

Pertumbuhan bisnis tersebut juga membuat Azis beberapa kali mendapat apresiasi dari Bank BRI.

“Waktu volume transaksi mencapai sekitar 15.000 per bulan atau 500 per hari, saya dapat hadiah Honda Mobilio. Pernah juga dapat dua unit sepeda motor, dua unit mobil, dan emas,” katanya.

Azis mengatakan keuntungan utamanya berasal dari margin jasa transfer dan tarik tunai. Ke depan, ia kembali melihat peluang dari pertumbuhan kawasan industri dengan rencana mencari lokasi yang lebih dekat dengan pusat aktivitas kawasan.

Selain memperluas layanan BRILink, ia juga berencana mengembangkan usaha makanan dan minuman.

Kebutuhan hunian juga menjadi bagian penting dari geliat ekonomi Bahodopi. Banyak pekerja IMIP merupakan perantau sehingga rumah kos menjadi pilihan utama untuk tempat tinggal.

Salah satu pelaku usaha kos-kosan yang telah lebih dahulu melihat peluang tersebut adalah Nasrudin (60), warga Desa Fatufia.

Nasrudin mengawali usaha kos-kosan pada 2007, ketika aktivitas industri di Bahodopi masih berada pada tahap awal.

“Usaha kos-kosan di Bahodopi itu awalnya di Desa Fatufia tahun 2007. Waktu adanya BDM (Bintang Delapan Mineral), yang buat kos pertama itu saya,” kata Nasrudin.

Saat itu, tarif sewa hanya sekitar Rp150 ribu per kamar. Nasrudin memulai usahanya dengan lima kamar.

Seiring berkembangnya kawasan industri dan bertambahnya modal usaha melalui pembiayaan perbankan, jumlah kamar yang dimilikinya kini mencapai 30 kamar.

Menurut Nasrudin, pertambahan jumlah pekerja otomatis meningkatkan permintaan terhadap hunian.

“Makin bertambah karyawan, otomatis usaha kos-kosan kami semakin berkembang dan ramai juga,” ujarnya.

Data survei UMKM Tim SGA PT IMIP menunjukkan sektor kuliner menjadi salah satu sektor usaha terbesar di Bahodopi. Tercatat terdapat 2.107 unit usaha kuliner dari total 7.643 UMKM, termasuk 111 kafe dan restoran.

Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas kawasan industri memberikan efek berantai terhadap ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Selama 13 tahun, IMIP tidak hanya berkembang sebagai kawasan pengolahan dan hilirisasi nikel, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat Bahodopi.

Berbagai usaha seperti kontraktor daerah, penyedia logistik, kuliner, hunian, hingga layanan transaksi perbankan tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan puluhan ribu pekerja kawasan.

Dengan demikian, wajah ekonomi Bahodopi tidak hanya tercermin dari produksi nikel dan nilai investasi. Perputaran ekonomi juga terlihat dari kedai kopi Yudi, ribuan transaksi BRILink Azis, hingga puluhan kamar kos Nasrudin yang terus terisi.

Namun, para pelaku usaha tersebut juga menyadari besarnya ketergantungan mereka terhadap aktivitas kawasan industri.

Bagi mereka, keberlangsungan aktivitas IMIP menjadi salah satu faktor penting yang ikut menentukan hidup-matinya roda ekonomi masyarakat di sekitar kawasan.(jir)

Pos terkait