TOLITOLI,Brita.id – Harga beras di tingkat petani di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, dilaporkan anjlok dalam beberapa waktu terakhir.
Di tengah kondisi tersebut, muncul polemik setelah Badan Urusan Logistik (Bulog) Tolitoli disebut-sebut mendatangkan puluhan kontainer beras dari luar daerah untuk mengisi stok gudang.
Situasi ini memicu kekecewaan di kalangan petani lokal. Mereka berharap Bulog dapat menyerap hasil panen guna menjaga stabilitas harga, namun justru melihat masuknya pasokan dari luar wilayah.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Tolitoli, Taufik, mengaku petani saat ini kesulitan menjual beras mereka. Banyak hasil panen yang masih tersimpan di lumbung karena tidak terserap pasar.
“Kami bingung dan kecewa. Harga beras kami terus turun, tapi justru beras dari luar yang masuk ke gudang Bulog. Kenapa tidak menyerap yang ada di sini saja?” ujarnya.
Menurutnya, selain harga yang tidak menguntungkan, persyaratan kualitas yang ditetapkan Bulog juga menjadi kendala utama. Hal itu membuat beras lokal sulit masuk ke gudang, sehingga pasar dinilai lebih banyak diisi komoditas dari luar daerah.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bulog Tolitoli, Zahnas Abdeli, membantah pihaknya tidak menyerap beras petani. Ia menegaskan Bulog tetap membeli hasil produksi lokal, namun harus memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan pemerintah.
“Bulog telah membeli beras petani mulai dari wilayah Bangkir hingga Kecamatan Galang dengan total sekitar 275 ton, dan proses penyerapan masih terus berjalan,” jelasnya.
Ia menambahkan, penerapan standar kualitas bertujuan menjaga mutu beras yang akan disalurkan ke masyarakat, baik untuk kebutuhan pasar maupun program bantuan pangan pemerintah.
Menurutnya, beras yang dapat diterima Bulog harus memenuhi persyaratan teknis, salah satunya tingkat butir patah maksimal 25 persen. Jika tidak memenuhi standar tersebut, maka beras tidak dapat diterima secara penuh.
Sementara terkait masuknya beras dari luar daerah, Bulog menyebut hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan stok cadangan pangan pemerintah yang harus tersedia setiap saat.
Meski demikian, Bulog mengklaim tetap mengutamakan penyerapan beras dari petani lokal selama memenuhi kriteria yang berlaku.
Kondisi ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara produksi petani lokal dan standar pasar yang ditetapkan, sehingga diperlukan solusi agar hasil panen petani dapat terserap optimal tanpa mengorbankan kualitas dan stabilitas pasokan pangan.(RM)








