MOROWALI, Brita.id– Pertumbuhan kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, turut membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar kawasan.
Hingga September 2026, jumlah tenaImip.co.idga kerja di Kawasan IMIP tercatat mencapai 100.310 orang. Angka tersebut terdiri atas 91.904 pekerja laki-laki dan 8.406 pekerja perempuan.
Pertumbuhan jumlah pekerja itu ikut menciptakan kebutuhan ekonomi baru, mulai dari makanan, minuman, tempat tinggal, transportasi hingga berbagai kebutuhan sehari-hari.
Salah satu pelaku UMKM yang merasakan dampak pertumbuhan tersebut adalah Ruslan (40), pemilik usaha Bubur Ayam Bandung Bintang 14 di Desa Keurea, Kecamatan Bahodopi.
Usaha yang dirintis Ruslan sejak 2019 tersebut kini telah memiliki enam cabang di sejumlah desa di Kecamatan Bahodopi. Dengan dibantu 10 karyawan, usaha bubur ayam itu mampu meraup omzet hingga Rp11 juta per hari.
Bubur ayam yang dijual dengan harga Rp15 ribu per porsi tersebut menjadi salah satu pilihan sarapan pekerja di kawasan industri.
“Bubur ini kan ibaratnya diterima semua kalangan. Baik dari bayi, anak-anak, orang dewasa, maupun orang sakit yang sedang dalam masa pemulihan,” kata Ruslan saat ditemui di warungnya pada akhir September 2026.
Ruslan merupakan warga asal Kabupaten Buol yang memilih hijrah ke Bahodopi untuk mengembangkan usaha. Ia mengandalkan resep turun-temurun dari ayahnya untuk mempertahankan cita rasa bubur ayam yang dijualnya.
Usahanya mulai beroperasi sejak pagi hingga siang hari, yakni pukul 07.00 hingga 12.00 Wita.
Perputaran Uang Capai Rp5,9 Triliun Setahun
Besarnya jumlah pekerja di kawasan industri juga berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar IMIP.
Data HR Department PT IMIP menunjukkan jumlah tenaga kerja di kawasan tersebut terus mengalami peningkatan. Pada 2020 tercatat 35.592 pekerja, kemudian naik menjadi 51.542 orang pada 2021 dan 68.466 orang pada 2022.
Jumlah tersebut kembali meningkat menjadi 74.350 orang pada 2023 dan sekitar 83.000 orang pada 2024. Pada 2025, jumlah pekerja mencapai 86.804 orang.
Dengan jumlah pekerja tersebut, estimasi perputaran uang di Kecamatan Bahodopi pada 2025 mencapai sekitar Rp499,1 miliar per bulan atau setara sekitar Rp5,9 triliun per tahun.
Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi pasar yang terbentuk di sekitar kawasan industri.
Head of Media Department PT IMIP, Dedy Kurniawan, mengatakan pertumbuhan kawasan industri turut mendorong perkembangan sektor usaha masyarakat di Bahodopi.
“Pertumbuhan kawasan yang begitu masif, turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang,” ujar Dedy, Jumat (2/10/2026).
Menurut dia, terdapat sejumlah jenis UMKM yang berkembang di Bahodopi. Di antaranya kios Pertamini sebanyak 981 unit, stan minuman 735 unit, stan makanan nonbangunan 670 unit, kios umum 648 unit, dan warung makan sebanyak 591 unit.
Sebagian besar UMKM tersebut masih berada dalam kategori usaha mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun. Namun, pertumbuhan jumlah usaha menunjukkan adanya peluang bagi pelaku UMKM untuk berkembang dan naik kelas.
Nasi Kuning Mak Indah Ikut Menopang Ekonomi Keluarga
Selain Ruslan, geliat ekonomi di sekitar IMIP juga dirasakan Nursia Asis (45), atau yang akrab disapa Mak Indah, pemilik usaha nasi kuning di Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi.
Usaha tersebut telah dirintis sejak Januari 2014. Setiap hari, Mak Indah menyiapkan puluhan kilogram beras untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, terutama pekerja IMIP yang dikenal dengan sebutan “helm kuning”.
Harga yang terjangkau, porsi yang melimpah, serta cita rasa lauk yang konsisten membuat nasi kuning Mak Indah tetap memiliki pelanggan meski jumlah warung makan di sekitar kawasan industri terus bertambah.
Usahanya kini mampu menghasilkan omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan.
Mak Indah mengaku tidak menganggap banyaknya warung makan sebagai persaingan yang harus dikhawatirkan. Baginya, setiap orang memiliki rezeki masing-masing.
“Saya hidup biasa saja. Biar tetangga punya mobil atau apa, saya tidak. Yang penting anak-anak bisa sekolah tinggi, jangan kayak saya yang hanya tamatan SMK,” kata ibu tunggal tersebut.
Hasil usaha nasi kuning itu digunakan untuk membiayai pendidikan ketiga anaknya.
Ia berharap pertumbuhan kawasan industri dan jumlah pekerja IMIP terus memberikan dampak positif bagi pelaku usaha lokal seperti dirinya.
“Saya itu intinya usahaku maju, karyawan IMIP tidak mengalami efisiensi. Kalau ada pengurangan karyawan, jelas omzet kami pengusaha warung akan minim,” ujarnya.
Bagi Ruslan dan Mak Indah, pertumbuhan kawasan industri bukan sekadar tentang bertambahnya jumlah pekerja dan aktivitas produksi. Di baliknya, terdapat peluang bagi masyarakat sekitar untuk membangun usaha, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.(jir)








