MOROWALI, Brita.id– Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus mempercepat pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah.
Sejumlah perusahaan tenant telah mengoperasikan PLTS, sementara proyek baru dengan kapasitas besar tengah dikembangkan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya IMIP mendorong penggunaan energi terbarukan, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, serta mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Deputy Operational Director PT IMIP, Yulius Susanto, mengatakan pengembangan PLTS merupakan bagian dari komitmen kawasan industri menuju industri hijau.
“Kami sudah berkomitmen untuk menuju green industry. Salah satunya pengurangan penggunaan bahan bakar fosil,” kata Yulius, Senin (28/9/2026).
Saat ini, sejumlah PLTS telah beroperasi di kawasan IMIP. PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) memiliki PLTS berkapasitas 0,957 MWp, PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry (GCNS) sebesar 0,304 MWp, dan PT Ocean Sky Metal Industry (OSMI) sebesar 0,188 MWp.

Selain itu, PT BTR telah mengoperasikan PLTS dengan kapasitas mencapai 9,5 MWp.
Pengembangan PLTS juga dilakukan tenant lainnya. PT Dexin Steel Indonesia (DSI) tengah mengembangkan PLTS atap berkapasitas 66 MWp dengan sekitar 119.800 panel surya yang dipasang pada area seluas 396.700 meter persegi.
PT PMMI juga segera menyelesaikan instalasi PLTS berkapasitas 0,57 MWp. Sementara PT QMB tengah memetakan pemanfaatan energi surya untuk mengurangi penggunaan energi fosil dan menekan jejak emisi karbon.
Yulius menjelaskan, penerapan PLTS di kawasan IMIP menggunakan model yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing fasilitas.
PT GCNS dan ITSS memanfaatkan area di atas kanal melalui konsep Canal Top Solar PV. Sementara OSMI, BTR, PMMI, QMB, dan DSI mengembangkan PLTS atap pada bangunan industri.
Menurut Yulius, pengembangan pembangkit energi surya dalam skala besar membutuhkan investasi dan lahan yang tidak sedikit. Salah satunya proyek PLTS PT Sesmo yang direncanakan berkapasitas 200 MWp dan membutuhkan lahan sekitar 200 hektare.
“Memang tidak mudah, karena penerapan energi listrik berbasis tenaga surya ini memiliki kebutuhan dan cost besar. Seperti tenant kita PT Sesmo yang sedang mengembangkan PLTS 200 MWp itu memerlukan lahan sekitar 200 hektare. Tapi kami terus mendorong tenant-tenant menggunakan energi listrik tenaga surya ini,” ujarnya.
Meski belum dapat menggantikan seluruh kebutuhan energi fosil, Yulius menyebut pengembangan PLTS merupakan bagian dari proses membangun sistem energi yang lebih beragam dan efisien di kawasan industri.
IMIP berharap pemanfaatan energi surya dapat memperkuat langkah kawasan dalam mendukung transisi energi sekaligus menunjukkan komitmen terhadap pengembangan industri yang lebih berkelanjutan.
“Harapan kami dengan adanya PLTS ini, bisa menyatakan kepada dunia bahwa kita merupakan kawasan industri yang benar-benar serius dan berkomitmen tinggi menuju green industry dan bersinergi dengan pemerintah untuk emisi yang lebih baik,” tandas Yulius.(jir)








