MOROWALI, Brita.id– Pagi hingga sore, Meidi Yurianti Mangkasa akrab dengan sampel, angka, dan hasil analisis di laboratorium. Sebagai Analis Kimia dan Air pada Departemen Testing Center PT TTRI, salah satu tenant di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), ketelitian menjadi bagian dari rutinitas pekerjaannya.
Namun, di luar jam kerja, Meidi menjalani aktivitas yang berbeda. Ia memilih berkutat dengan tanaman, larutan nutrisi, dan selada di sebuah green house yang dibangunnya di Desa Makarti, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Di tempat itu, seragam laboratorium berganti pakaian kerja petani. Meidi menjadi petani hidroponik, pengelola usaha, sekaligus konten kreator yang memasarkan hasil panennya melalui media sosial.
“Kalau mau untung lebih, memang harus korban waktu,” kata Meidi saat ditemui di green house miliknya.
Usaha Mey Farm Hidroponik tidak lahir dari sebuah perencanaan bisnis yang besar. Semuanya bermula dari kegemaran sederhana Meidi menanam tanaman.
Saat tinggal di tempat kos di Desa Labota, ia mencoba memanfaatkan balkon untuk bercocok tanam. Ia membeli polibag, mencari tanah yang dianggap subur, kemudian mulai menanam berbagai jenis tanaman.
Bagi Meidi, melihat tanaman yang dirawatnya tumbuh hingga bisa dipanen memberikan kepuasan tersendiri. Hasil panen tersebut dimasak untuk kebutuhan sendiri dan sebagian dibagikan kepada teman serta tetangga kos.
Hingga suatu ketika, Meidi mengunggah hasil panen seladanya ke media sosial. Di luar dugaan, seorang teman tertarik untuk membeli.
Saat itu, ia menjual selada sekitar Rp5.000 per tanaman.
Transaksi sederhana tersebut membuka perspektif baru. Tanaman yang awalnya hanya menjadi hobi ternyata dapat menghasilkan rupiah.
Meidi kemudian mulai mencari tahu siapa saja yang membutuhkan selada di kawasan Bahodopi. Restoran, usaha burger dan kebab, penjual makanan beku, hingga berbagai usaha kuliner menjadi sasaran pasar yang kemudian ia jajaki.
Keseriusan Meidi mengembangkan usaha hidroponik mulai terlihat pada Maret 2023. Ia membangun green house yang lebih representatif untuk meningkatkan produksi.
Panen perdana dari pengembangan tersebut dilakukan pada Mei 2023. Usaha itu kemudian diberi nama Mey Farm Hidroponik.
Proses budidaya dilakukan secara bertahap. Pada fase pembibitan, tanaman mendapatkan konsentrasi nutrisi sekitar 500–600 ppm. Setelah sekitar 10 hari, tanaman dipindahkan ke fase remaja dengan konsentrasi nutrisi sekitar 800–900 ppm selama 17–20 hari.
Setelah itu, tanaman masuk ke meja dewasa dengan konsentrasi nutrisi sekitar 1.000–1.200 ppm hingga siap dipanen.
Secara keseluruhan, selada membutuhkan waktu sekitar 40 hari hingga mencapai usia panen.
Bagi Meidi, setiap tahapan membutuhkan ketelitian. Kebiasaan bekerja di laboratorium menjadi modal tersendiri dalam mengelola tanaman hidroponik.
Ada hal menarik dari perjalanan Meidi. Pekerjaan utamanya sebagai analis kimia ternyata tidak benar-benar terpisah dari usaha hidroponik yang dijalaninya.
Dunia laboratorium membiasakannya bekerja dengan teliti, memperhatikan angka, serta memahami proses dan komposisi. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi bekal ketika ia mengelola nutrisi tanaman.
Sementara itu, media sosial dimanfaatkannya sebagai sarana pemasaran.
“Saya harus ngonten biar orang tahu saya jual selada,” ujarnya.
Dengan cara tersebut, Meidi tidak hanya memproduksi selada, tetapi juga membangun identitas usahanya di tengah pasar kuliner Bahodopi yang terus berkembang.
Di tengah aktivitas industri di kawasan IMIP, Meidi memilih menghadirkan ruang hijau melalui usaha hidroponik.
Ia tidak mengklaim green house miliknya mampu menyelesaikan persoalan lingkungan di kawasan industri. Baginya, kontribusi tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Ia memilih melakukan apa yang bisa dilakukan dari lingkungan terdekat.
“Saya berharap hidroponik ini bisa menyumbangkan sedikit oksigen di kawasan industri IMIP, khususnya Bahodopi,” katanya.
Harapan itu berjalan beriringan dengan rencana pengembangan usahanya. Meidi kini sedang memperluas green house untuk meningkatkan kapasitas produksi selada.
Ia juga berharap usaha tersebut kelak dapat merekrut masyarakat sekitar Bahodopi sehingga membuka lapangan pekerjaan baru.
Bagi Meidi, menjadi karyawan bukan alasan untuk berhenti membangun sumber penghasilan lain.
Ia menyadari bahwa status sebagai pekerja tidak bisa dianggap berlangsung selamanya. Karena itu, ia memilih membangun usaha sejak sekarang.
Hidroponik juga menjadi ruang baginya untuk beristirahat sejenak dari tekanan dan rutinitas pekerjaan di laboratorium.
Setelah berhadapan dengan sampel dan angka, ia menemukan ketenangan ketika mengamati pertumbuhan tanaman, mengatur nutrisi, merawat selada, hingga melihat hasil panen.
Kisah Meidi menjadi berbeda karena ia tidak sekadar mencari pekerjaan tambahan. Ia memanfaatkan berbagai hal yang sudah dimilikinya untuk membangun pilihan baru.
Ilmu kimia menjadi modal pengetahuan. Pekerjaan di laboratorium melatih ketelitian. Hobi menjadi pintu masuk. Sementara media sosial menjadi alat pemasaran.
Semua itu kemudian bertemu di sebuah green house sederhana di Bahodopi.
Usaha tersebut perlahan mendapatkan konsumen tetap. Salah satunya Eka Oktavia, pemilik Frozen Food Bahomakmur, yang mengaku cukup sering memesan selada dari Mey Farm Hidroponik.
Menurut Eka, selada yang diproduksi Meidi memiliki rasa yang tidak pahit, ukuran relatif besar, dan harga yang terjangkau.
Saat ini, selada tersebut dijual sekitar Rp10.000 per tanaman.
“Kemasannya proper, bisa tahan hingga 10 hari dalam lemari pendingin,” kata Eka.
Bagi Meidi, perjalanan Mey Farm Hidroponik masih panjang. Ia masih ingin meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar, sekaligus melibatkan masyarakat sekitar.
Di sela rutinitas sebagai analis kimia di kawasan industri, ia memilih menanam sesuatu yang lain: bukan hanya selada, tetapi juga kemandirian dan harapan untuk masa depan.(**/jir)








