MOROWALI, Brita.id– PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus memperkuat komitmen pengurangan emisi karbon melalui berbagai program lingkungan, mulai dari rehabilitasi mangrove hingga pemanfaatan energi bersih di kawasan industri.
Sebagai pengelola kawasan industri mineral berskala besar, IMIP menilai keseimbangan ekosistem dan adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan investasi.
Upaya tersebut juga sejalan dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang yang mendorong pengembangan kawasan industri rendah emisi.
Direktur Environmental PT IMIP, Dermawati S., mengatakan perusahaan telah menerapkan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Action Plan) yang berfokus pada perlindungan habitat kritis, pemulihan area terdegradasi, serta pembangunan koridor ekologis antara kawasan alami dan kawasan industri.
“Program ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan komunitas lokal, akademisi, dan pemerintah, serta mengacu pada praktik Good International Industry Practice (GIIP), termasuk panduan Sistem Manajemen Lingkungan dan Sosial dari International Finance Corporation (IFC),” ujar Dermawati, Sabtu (7/3/2026).
Dalam upaya penyerapan karbon, sejak 2018 hingga 2025 IMIP telah menjalankan program rehabilitasi pesisir melalui penanaman 70.188 bibit mangrove di sejumlah desa sekitar kawasan industri dengan luas mencapai 5,62 hektare.
Program serupa juga dilakukan di Palu, Sulawesi Tengah dengan penanaman 10.000 mangrove, serta di Brebes, Jawa Tengah sebanyak 30.000 bibit.
Secara keseluruhan, kegiatan tersebut diproyeksikan mampu menyerap karbon hingga 21.483,2 ton CO₂e.
Pada Desember 2025, penanaman mangrove kembali dilakukan di empat wilayah, yakni Desa Matansala (Morowali), Desa Tosale (Donggala), Kelurahan Bungkutoko (Kendari), dan Desa Tapulaga (Konawe) sebagai bagian dari pemulihan ekosistem pesisir.
Hingga 2026, IMIP menargetkan penanaman mencapai 150.000 bibit mangrove.
Selain rehabilitasi pesisir, IMIP juga mengembangkan IMIP EduPark seluas 23 hektare sebagai pusat konservasi, pendidikan, dan penelitian satwa endemik Sulawesi.
Pada 2024, bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), perusahaan juga memindahkan 20 ekor Macaca Ochreata ke habitat baru di Taman Wisata Alam Tokobae.
Di sektor energi, langkah pengurangan emisi dilakukan melalui penggunaan kendaraan listrik dan pemanfaatan energi terbarukan di kawasan industri. Saat ini tercatat 502 unit kendaraan listrik telah digunakan oleh sejumlah tenant untuk mendukung operasional kawasan.
Selain itu, PT Huayue Nickel Cobalt memanfaatkan kembali energi panas dari proses industri untuk pembangkit listrik mandiri.
Sementara PT Dexin Steel Indonesia mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap berkapasitas 65,89 MWp dengan pemasangan 119.800 panel surya di area seluas sekitar 396.700 meter persegi, yang dilengkapi sistem penyimpanan energi 22 MW/22 MWh.
Pengembangan tambahan PLTS sebesar 18 MW untuk fasilitas bahan baku juga telah mencapai progres sekitar 80 persen.
Dermawati menegaskan berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menjalankan industri secara bertanggung jawab sekaligus mendukung agenda global penanganan perubahan iklim.
“COP30 menjadi momentum memperkuat aksi nyata mitigasi dan adaptasi terhadap krisis iklim. Kami berupaya memastikan pertumbuhan industri berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem dan keberlanjutan lingkungan,” katanya.
Diketahui, delegasi IMIP turut berpartisipasi dalam Forum COP30 Brasil pada 10–21 November 2025 yang membahas implementasi Perjanjian Paris, pengurangan emisi global, perlindungan hutan tropis dan biodiversitas, serta penguatan transisi energi bersih dan pembiayaan teknologi hijau.
Partisipasi tersebut sekaligus menegaskan komitmen IMIP dalam menerapkan prinsip keberlanjutan melalui efisiensi sumber daya serta upaya meminimalkan dampak lingkungan dalam setiap proses produksi.(ant/jir)








