MOROWALI,Brita.id– Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, menunjukkan penurunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Morowali, TPT pada Agustus 2025 tercatat 2,81 persen.
Angka tersebut turun 0,34 persen poin dibandingkan Februari 2024 yang berada di level 3,15 persen.
Kepala BPS Morowali, Gladius Alfonsus, menyampaikan, berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), jumlah angkatan kerja di Morowali pada Agustus 2025 mencapai 85.039 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 82.653 orang telah terserap dalam pekerjaan, sementara 2.386 orang masih berstatus pengangguran.
Jika dibandingkan dengan kondisi lima tahun sebelumnya, jumlah pengangguran di Morowali juga mengalami penurunan. Pada 2020, jumlah angkatan kerja tercatat 57.727 orang dengan 54.721 orang telah bekerja dan 3.006 orang masih menganggur.
Pada 2025, jumlah pengangguran tersebut turun menjadi 2.386 orang, meskipun jumlah angkatan kerja mengalami peningkatan.
Salah satu sektor yang berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja di Morowali adalah kawasan industri pengolahan nikel PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Hingga akhir Agustus 2026, IMIP tercatat menyerap 98.266 tenaga kerja. Dari jumlah tersebut, sebanyak 17.688 orang atau sekitar 18 persen merupakan warga Kabupaten Morowali.
Artinya, dari total 85.039 angkatan kerja Morowali yang tercatat BPS pada Agustus 2025, sekitar 20 persen warga Morowali terserap bekerja di kawasan IMIP.
Head of Media PT IMIP, Dedy Kurniawan, mengatakan kehadiran kawasan industri berbasis nikel yang terintegrasi diarahkan untuk memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Morowali dan Sulawesi Tengah secara luas.
“Sudah tertuang dalam visi, misi dan nilai perusahaan, bagaimana IMIP memfasilitasi perkembangan usaha masyarakat lokal dan memberi kontribusi nyata bagi daerah,” tegas Dedy.
Menurut Dedy, penyerapan tenaga kerja lokal juga memberikan perubahan terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar kawasan industri.
Warga yang sebelumnya bekerja serabutan, kata dia, kini memiliki kesempatan memperoleh pekerjaan yang lebih stabil setelah bergabung di kawasan IMIP.
Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja tersebut berlangsung seiring dengan perkembangan kawasan industri dan meningkatnya nilai investasi.
Dengan demikian, keberadaan industri pengolahan nikel tidak hanya mendorong aktivitas ekonomi daerah, tetapi juga menjadi salah satu sumber terbukanya kesempatan kerja bagi masyarakat lokal.(jir)








