MOROWALI,Brita.id– Kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus memperkuat peran strategisnya dalam mengintegrasikan dunia industri dan pendidikan guna mencetak sumber daya manusia (SDM) yang siap menghadapi tantangan industri modern.
Dalam satu dekade terakhir, transformasi industri nasional turut mendorong dunia pendidikan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
IMIP hadir sebagai pusat manufaktur terintegrasi yang tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi antara inovasi dan pengembangan SDM.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah menghadirkan program magang dosen. Program ini bertujuan menjembatani kesenjangan antara teori di kampus dan praktik di dunia industri.
Akademisi dari Politeknik ATI Makassar, Dr. Idi Amin, menyebut program tersebut sejalan dengan kebijakan link and match pendidikan vokasi industri.
“Magang dosen menjadi instrumen konkret untuk mempercepat adaptasi pendidikan terhadap kebutuhan industri,” ujarnya, Senin (13/4).
Melalui program ini, dosen terlibat langsung dalam ekosistem industri berskala besar di IMIP, mulai dari rantai pasok global, sistem otomasi, hingga manajemen energi dan pengendalian lingkungan.
Menurut Idi Amin, pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam metode pembelajaran berbasis studi kasus dan simulasi proses di kampus, sehingga teori menjadi lebih aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri.
Ia juga menilai kolaborasi ini mencerminkan konsep Triple Helix Innovation, yaitu sinergi antara universitas, industri, dan pemerintah dalam mendorong transfer teknologi dan pengembangan riset terapan.
Sementara itu, HR Operation Head PT IMIP, Trisno Wasito, mengatakan program magang dosen menjadi bagian dari investasi jangka panjang perusahaan dalam meningkatkan kualitas SDM.
“Program ini memberikan pemahaman komprehensif mulai dari hilirisasi nikel, teknologi pemurnian, hingga manajemen lingkungan dan keselamatan kerja,” jelasnya.
Menurutnya, keterlibatan akademisi tidak hanya bermanfaat bagi dunia pendidikan, tetapi juga memberikan perspektif baru bagi industri dalam mendorong inovasi yang relevan dengan kebutuhan produksi.
IMIP menilai penguatan kolaborasi antara industri dan pendidikan menjadi kunci dalam menghadapi transisi energi global dan perkembangan industri berbasis teknologi tinggi.
Dengan integrasi tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu membaca kompleksitas industri serta merancang solusi berbasis kebutuhan nyata di lapangan.
“Integrasi antara industri dan pendidikan bukan lagi pilihan, tetapi keharusan strategis untuk menyiapkan SDM masa depan,” tandas Trisno. (**/jir)








