PALU,Brita.id – Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid menegaskan bahwa sektor pertanian dan perikanan akan menjadi fokus baru penguatan ekonomi daerah di tengah tekanan fiskal dan ketidakpastian ekonomi global.
Hal itu disampaikan Anwar saat menghadiri Forum Ekonomi Keuangan Sulawesi Tengah dan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah di Sriti Convention Hall Palu, Kamis (7/5/2026).
Dalam forum tersebut, Anwar menyebut perekonomian Sulawesi Tengah masih menunjukkan kinerja positif. Pada triwulan I tahun 2026, ekonomi Sulawesi Tengah tercatat tumbuh 8,32 persen secara tahunan.
“Sulawesi Tengah tetap tumbuh sangat baik di tengah tekanan global. Triwulan I tahun 2026 ekonomi kita tumbuh 8,32 persen secara tahunan,” ujar Anwar.
Menurutnya, sektor industri pengolahan masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi daerah dengan kontribusi mencapai 43,43 persen terhadap struktur ekonomi Sulawesi Tengah. Sektor tersebut juga tumbuh 15,9 persen seiring meningkatnya aktivitas ekspor.
Meski demikian, Anwar mengakui ekonomi Sulawesi Tengah mengalami kontraksi sebesar 6,98 persen secara kuartalan dibanding triwulan IV tahun 2025.
Kondisi itu dipicu melemahnya aktivitas administrasi pemerintahan akibat berkurangnya kapasitas fiskal daerah.
Ia mengungkapkan, Sulawesi Tengah kehilangan transfer dana daerah sebesar Rp530 miliar pada tahun 2025 dan kembali berkurang Rp1,2 triliun pada tahun 2026.
“APBD kita sebelumnya hampir Rp6 triliun, sekarang tinggal sekitar Rp4,3 triliun. Itu sangat memengaruhi belanja pemerintah dan aktivitas birokrasi,” katanya.
Meski menghadapi tekanan fiskal, Anwar tetap optimistis terhadap masa depan ekonomi Sulawesi Tengah.
Ia menilai struktur ekonomi daerah kini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada APBD karena sektor industri, perdagangan, dan investasi terus berkembang.
“Kita bersyukur karena Sulawesi Tengah tidak hanya bergantung pada APBD. Pertumbuhan ekonomi kita digerakkan sektor-sektor produktif,” ungkapnya.
Anwar mengatakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mulai menggeser fokus pembangunan ekonomi ke sektor pertanian dan perikanan guna memperkuat fondasi ekonomi daerah dalam jangka panjang.
Menurutnya, investasi di sektor pertanian dan perikanan masih sangat minim, padahal keduanya memiliki potensi besar untuk menopang pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah di masa mendatang.
Sebagai langkah awal, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah tengah menggagas kerja sama sister city dengan Provinsi Hainan dan Sichuan di Tiongkok.
Pada 17 Mei mendatang, Anwar bersama Rektor Universitas Tadulako dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman kerja sama di bidang pertanian dan perikanan.
“Kita tidak lagi hanya fokus pada industri pengolahan nikel. Kita mulai fokus memperkuat pertanian dan perikanan,” tegasnya.
Selain sektor ekonomi, Anwar juga menyoroti kondisi inflasi dan kemiskinan di Sulawesi Tengah.
Ia menyebut inflasi mulai membaik pada triwulan pertama tahun 2026 berkat sinergi pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan.
Sementara itu, angka kemiskinan di Sulawesi Tengah disebut mulai menunjukkan tren penurunan dengan sekitar 10 ribu warga keluar dari kategori miskin selama setahun terakhir.
Namun demikian, Anwar menemukan adanya keterkaitan antara tingginya angka kemiskinan dengan jumlah rumah tidak layak huni di sejumlah daerah.
“Sekitar 87 ribu rumah di Sulawesi Tengah masih tidak layak huni. Daerah yang rumah tidak layak huninya tinggi, angka kemiskinannya juga tinggi,” jelasnya.
Ia mencontohkan Kabupaten Donggala, Sigi, dan Tojo Una-Una sebagai wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi yang juga memiliki jumlah rumah tidak layak huni cukup besar.
Anwar berharap forum ekonomi tersebut dapat melahirkan rekomendasi konkret guna memperkuat ekonomi daerah sekaligus menjawab tantangan kemiskinan, inflasi, dan ketahanan fiskal di Sulawesi Tengah.(res/jir)








