Belanja Pekerja IMIP Tembus Rp5,9 Triliun per Tahun, Dominasi Perputaran Ekonomi Bahodopi

  • Whatsapp

MOROWALI,Brita.id – Kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus menunjukkan perannya sebagai penggerak utama ekonomi lokal di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Dominasi tenaga kerja usia produktif di kawasan industri tersebut mendorong tingginya aktivitas konsumsi masyarakat dan pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Berdasarkan survei yang dilakukan tim Research and Support Departemen Secretariat General Affair PT IMIP, mayoritas karyawan di kawasan industri berada pada rentang usia 26 hingga 35 tahun dengan proporsi mencapai 56,4 persen dari total responden.

Kelompok usia produktif tersebut dinilai memiliki tingkat konsumsi yang tinggi dan stabil, terutama untuk kebutuhan harian.

Survei mencatat sebanyak 98,4 persen responden mengalokasikan pengeluaran untuk konsumsi makanan dan minuman setiap hari.

Rata-rata belanja konsumsi pekerja mencapai sekitar Rp2,19 juta per orang setiap bulan. Dari angka tersebut, total pengeluaran bulanan karyawan di kawasan IMIP diperkirakan mencapai Rp492 miliar atau setara Rp5,9 triliun dalam setahun.

Besarnya perputaran uang itu menjadikan sektor kuliner sebagai salah satu tulang punggung ekonomi lokal di kawasan lingkar industri IMIP.

Selain sektor makanan dan minuman, aktivitas ekonomi juga tumbuh di sektor indekos dan transportasi.

Sebanyak 82,6 persen pekerja diketahui tinggal di rumah kos atau kontrakan dengan rata-rata biaya sewa mencapai Rp1,26 juta per bulan.

Sementara itu, sekitar 79,3 persen responden mengaku rutin mengeluarkan biaya transportasi yang turut menggerakkan sektor jasa transportasi lokal di Bahodopi dan sekitarnya.

Tingginya aktivitas konsumsi para pekerja berdampak langsung terhadap pertumbuhan UMKM. Saat ini tercatat sebanyak 7.643 unit UMKM beroperasi di kawasan Bahodopi, dengan komposisi 78 persen usaha mikro dan 22 persen usaha kecil.

UMKM tersebut berperan memenuhi berbagai kebutuhan harian pekerja, mulai dari makanan dan minuman, kebutuhan tempat tinggal, hingga jasa transportasi.

Survei juga menunjukkan kecenderungan pekerja lebih memilih berbelanja di warung atau kios lokal. Sebanyak 57 persen responden menyatakan lebih sering membeli kebutuhan di usaha lokal dibandingkan toko modern.

Faktor kedekatan lokasi, harga yang lebih terjangkau, serta hubungan sosial dengan penjual menjadi alasan utama pilihan tersebut.

Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Sulawesi Tengah menilai kondisi ini menjadi sinyal penting untuk memperkuat sektor perdagangan, jasa logistik, konstruksi, dan UMKM pendukung di sekitar kawasan industri.

“Langkah ini bertujuan membantu memperluas distribusi manfaat ekonomi dari aktivitas industri. Selain itu, dapat membantu menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat lokal,” tulis BI Sulteng dalam keterangannya.

Di sisi lain, Kepala Badan Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Andi Irman mengatakan pemerintah daerah akan terus mendorong iklim investasi yang kondusif serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat.

“Selain pengelolaan potensi fiskal daerah, pemerintah mendukung kebijakan hilirisasi industri untuk memberikan nilai tambah komoditas daerah,” ujarnya.

Dengan dominasi tenaga kerja usia produktif dan tingginya daya beli masyarakat, kawasan IMIP diproyeksikan tetap menjadi motor penggerak ekonomi lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif bagi masyarakat Bahodopi dan Kabupaten Morowali.(rob/jir)

Pos terkait