MOROWALI, Brita.id– PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menggagas Program Praktisi Mengajar sebagai upaya memperkuat sinergi antara dunia industri dan perguruan tinggi dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan siap kerja.
Program yang dikelola Learning Center Departemen Human Resources (HR) PT IMIP ini menghadirkan para profesional dari berbagai perusahaan tenant sebagai pengajar tamu di kampus, sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang tidak hanya berbasis teori, tetapi juga praktik industri.
Head of Learning Center PT IMIP, Trisno Wasito, mengatakan program tersebut dirancang untuk menciptakan hubungan link and match yang lebih kuat antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri.
“Dalam jangka panjang kegiatan Program Praktisi Mengajar ini diharapkan menjembatani kebutuhan dunia industri yang membutuhkan sumber daya manusia kompeten,” ujar Trisno, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, apabila perguruan tinggi mampu menghasilkan lulusan yang memahami kebutuhan industri sejak dini, perusahaan tidak lagi harus memberikan pembekalan kompetensi dasar secara menyeluruh kepada karyawan baru.
Program Praktisi Mengajar sebenarnya mulai digagas sejak 2025, ketika sejumlah perguruan tinggi mengundang praktisi dari IMIP sebagai dosen tamu.
Menindaklanjuti kebutuhan tersebut, Departemen HR IMIP kemudian menyusun mekanisme yang lebih terstruktur dengan menghimpun tenaga pengajar dari berbagai perusahaan di kawasan industri berbasis nikel tersebut.
Dalam pelaksanaannya, kampus terlebih dahulu menyampaikan kebutuhan materi, kemudian HR IMIP mencarikan praktisi yang sesuai dengan bidang keahlian dan berkoordinasi dengan perusahaan serta atasan langsung karyawan untuk mengatur jadwal mengajar.
Untuk kampus yang berada di luar Morowali, seperti Makassar dan Palu, kegiatan dilakukan secara daring. Sementara di Politeknik Industri Logam Morowali (PILM), pembelajaran dilaksanakan secara tatap muka.
Hingga pertengahan 2026, sebanyak 35 karyawan dari berbagai tenant IMIP, di antaranya PT QMB New Energy Materials, PT Huayue Nickel Cobalt (HYNC), dan PT Dexin Steel Indonesia (DSI), telah terdaftar sebagai praktisi pengajar.
Mereka berasal dari berbagai bidang keahlian, mulai dari hidrometalurgi, pirometalurgi, laboratorium, pengelolaan limbah, hingga instalasi mesin dan listrik. Dengan demikian, perguruan tinggi dapat memperoleh praktisi yang sesuai dengan kebutuhan materi perkuliahan.
Salah satu praktisi, Yohanes Yoseph Deo dari Departemen Testing Center Divisi Teknisi Analis Gas dan Cairan PT TTRI, menilai pengalaman bekerja di industri menjadi nilai tambah dalam proses pembelajaran.
“Pengalaman kerja di industri membantu menghubungkan teori dengan praktik di lapangan. Dari pengalaman itu kita dapat memberikan contoh kasus nyata, menjelaskan tantangan yang sering terjadi di industri, serta membagikan pengalaman terkait penyelesaian masalah,” ujarnya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama tim, kedisiplinan, pemecahan masalah, serta kesadaran terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Selain meningkatkan kualitas pembelajaran, Program Praktisi Mengajar juga menjadi sarana penyelarasan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri masa depan.
Masukan dari para praktisi akan menjadi bahan pengembangan kurikulum yang direncanakan mulai diterapkan pada semester Agustus 2026 hingga Januari 2027.
Program ini juga memberikan manfaat bagi para praktisi yang berlatar belakang insinyur, karena dapat mendukung pemenuhan persyaratan sertifikasi profesi Insinyur Profesional Madya (IPM) maupun Insinyur Profesional Utama (IPU) dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII).
Sebagai bagian dari penguatan kolaborasi dengan perguruan tinggi, IMIP turut menyediakan beasiswa pendidikan dan kesempatan magang selama satu tahun bagi mahasiswa dari empat institusi vokasi mitra, yakni Politeknik Industri Logam Morowali (PILM), Akademi Teknik Industri (ATI) Makassar, Fakultas Vokasi Universitas Hasanuddin bidang metalurgi, serta Program D4 Teknologi Rekayasa Instalasi Listrik (TRIL) dan Teknologi Rekayasa Instalasi Mesin (TRIM) Universitas Tadulako.

Melalui Program Praktisi Mengajar, IMIP berharap mahasiswa memiliki kesiapan yang lebih baik memasuki dunia kerja, perusahaan memperoleh tenaga kerja yang kompeten, serta perguruan tinggi mampu menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri nasional di tengah percepatan hilirisasi mineral.(jir)








