MOROWALI, Brita.id– Potensi hilirisasi ikan roa di Kabupaten Morowali dinilai mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat pesisir, khususnya di Desa Buajangka, Desa Sainoa, dan Desa Pungkoilu yang selama ini dikenal sebagai sentra penghasil ikan roa.
Selama ini, hasil tangkapan ikan roa dari ketiga desa tersebut mayoritas dipasarkan dalam bentuk ikan roa asap sebagai bahan baku. Kondisi tersebut menyebabkan nilai tambah yang diterima nelayan dan masyarakat masih relatif rendah.
Ketua Perkumpulan Orang Sama Bajau Indonesia (POSBI) Morowali, Hatta Anwar, mengatakan pengembangan hilirisasi perikanan melalui pengolahan ikan roa menjadi berbagai produk turunan dapat meningkatkan nilai ekonomi sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
“Hilirsasi ikan roa tidak hanya meningkatkan nilai jual produk, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi nelayan, ibu rumah tangga, pelaku UMKM, hingga generasi muda di desa-desa pesisir,” kata Hatta Anwar, Jumat (17/6/2026).
Menurutnya, ikan roa memiliki potensi untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai jual tinggi, seperti sambal roa, abon roa, dabu-dabu roa, ikan roa suwir, serta aneka kuliner khas berbahan dasar ikan roa yang memiliki pasar cukup luas.
Nilai Tambah Sambal Roa Lebih Tinggi
Berdasarkan simulasi pengolahan yang dilakukan POSBI Morowali, satu packing ikan roa asap yang berisi sekitar 140 ekor ikan memiliki harga jual sekitar Rp300 ribu.
Jika dijual sebagai bahan baku, pendapatan yang diperoleh hanya sebesar Rp300 ribu per packing. Namun, apabila diolah menjadi sambal roa, satu packing ikan roa dapat menghasilkan sekitar 20 kemasan sambal roa.
Dengan harga jual Rp75 ribu per kemasan, omzet yang dihasilkan mencapai Rp1,5 juta.
Adapun estimasi biaya produksi meliputi pembelian ikan roa asap Rp300 ribu, bahan baku seperti cabai, bawang, minyak dan bumbu Rp250 ribu, kemasan dan label Rp200 ribu, biaya gas, listrik dan transportasi Rp100 ribu, serta tenaga kerja Rp150 ribu.
Total biaya produksi diperkirakan mencapai Rp1 juta, sehingga keuntungan bersih yang diperoleh mencapai sekitar Rp500 ribu untuk setiap satu packing ikan roa yang diolah.
“Dari bahan baku yang nilainya hanya Rp300 ribu, masyarakat bisa memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp500 ribu dan menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp1,5 juta setelah diolah menjadi sambal roa,” jelas Hatta.
Potensi Perputaran Ekonomi Capai Ratusan Juta Rupiah
POSBI Morowali juga memproyeksikan bahwa apabila satu kelompok UMKM mampu mengolah 10 packing ikan roa setiap bulan, maka omzet yang dihasilkan dapat mencapai Rp15 juta dengan estimasi laba bersih sekitar Rp5 juta per bulan.
Jika terdapat 10 kelompok UMKM aktif di Desa Buajangka, Sainoa, dan Pungkoilu, maka potensi perputaran ekonomi masyarakat diperkirakan mencapai Rp150 juta per bulan.
Sementara itu, total laba bersih yang dapat dinikmati masyarakat mencapai sekitar Rp50 juta per bulan atau setara Rp600 juta per tahun.
Hatta menilai potensi tersebut perlu mendapat dukungan pemerintah daerah melalui program hilirisasi perikanan, pelatihan pengolahan produk, penguatan UMKM, serta bantuan pemasaran agar produk olahan ikan roa mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Potensi ikan roa merupakan aset ekonomi strategis Morowali. Dengan hilirisasi, masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” pungkasnya.(pal)








