Efek Ekonomi IMIP Buka Peluang Kedai Kopi di Bahodopi, Omzet Capai Ratusan Juta Perbulan

  • Whatsapp

MOROWALI,Brita.id– Pertumbuhan kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) tidak hanya membuka lapangan kerja di sektor industri pengolahan nikel, tetapi juga mendorong berkembangnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya bisnis kedai kopi di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Meningkatnya jumlah pekerja dan aktivitas ekonomi di wilayah lingkar industri telah menciptakan pasar baru bagi pelaku usaha lokal. Kedai kopi yang sebelumnya hanya menjadi usaha skala kecil kini berkembang menjadi sektor bisnis menjanjikan dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah per bulan.

Data survei UMKM yang dihimpun Tim Research and Support Departemen Secretariat and General Affair (SGA) PT IMIP menunjukkan sektor kuliner menjadi kategori usaha terbesar di Bahodopi. Hingga Oktober 2025 tercatat sebanyak 2.107 unit usaha kuliner atau sekitar 26 persen dari total 7.643 UMKM yang beroperasi di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, terdapat 111 kafe dan restoran yang tumbuh seiring meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak positif tersebut adalah Moh. Ahdiat (27), pendiri Solusi Kopie di Desa Keurea, Kecamatan Bahodopi. Ahdiat memulai usaha kedai kopi pada 2021 setelah menyelesaikan pendidikan sarjana.

“Sebelumnya saya pernah bekerja di kedai kopi skala kecil. Setelah lulus, saya melihat peluang usaha di Bahodopi dan memutuskan membuka kedai sendiri,” ujar Ahdiat, awal Juni 2026.

Perjalanan bisnisnya tidak selalu berjalan mulus. Namun, seiring bertambahnya jumlah pekerja di kawasan industri, Solusi Kopie berhasil berkembang menjadi salah satu kedai yang cukup dikenal di Bahodopi.

Saat ini sekitar 80 persen pelanggan Solusi Kopie berasal dari kalangan pekerja kawasan IMIP. Dalam periode Juni 2025 hingga Juni 2026, omzet usaha tersebut tercatat berkisar antara Rp120 juta hingga Rp150 juta per bulan.

Pertumbuhan usaha itu juga berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja. Solusi Kopie kini mempekerjakan 10 orang yang bertugas sebagai barista, pelayan, kasir, dan staf dapur.

“Dalam bisnis, penting membentuk budaya kerja. Itu nantinya akan membentuk suatu sistem yang baik,” kata Ahdiat.

Fenomena serupa juga dialami Musti Coffee yang berdiri pada Agustus 2024. Kedai kopi milik Selvina Astuti tersebut memanfaatkan peluang pasar yang tumbuh seiring meningkatnya jumlah pekerja di kawasan industri.

Mengusung konsep kedai kopi modern dengan menyasar kalangan generasi muda, Musti Coffee berkembang cukup cepat. Pada enam bulan pertama beroperasi, omzet harian usaha itu berkisar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu. Kini pendapatan kotor mencapai Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per hari atau setara Rp75 juta hingga Rp90 juta per bulan.

Selain menghasilkan keuntungan, Musti Coffee juga membuka lapangan kerja bagi empat orang yang bekerja sebagai koki, pelayan, dan barista.

Menurut Selvina, meningkatnya jumlah kafe di Bahodopi justru menjadi tantangan positif yang mendorong inovasi usaha.

“Semakin banyak kafe justru semakin beragam pilihan bagi konsumen. Ini membuat saya terus berinovasi karena setiap kafe memiliki karakter, konsep, dan target pasar masing-masing,” ujarnya.

Kehadiran Solusi Kopie dan Musti Coffee menjadi contoh nyata bagaimana aktivitas industri mampu menciptakan efek pengganda ekonomi bagi masyarakat sekitar. Selain membuka peluang usaha baru, pertumbuhan sektor kuliner juga memperluas penyerapan tenaga kerja dan menggerakkan rantai pasok berbagai komoditas pendukung usaha.

Dari secangkir kopi yang dinikmati para pekerja setelah beraktivitas, lahir peluang ekonomi yang turut memperkuat perekonomian masyarakat di lingkar kawasan industri IMIP.(ant/jir)

Pos terkait