MOROWALI,Brita.id– Penerjemah atau translator di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) memiliki peran penting dalam menjembatani komunikasi antara tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok dan tenaga kerja Indonesia (TKI).
Di lingkungan kerja IMIP, translator juga dikenal sebagai “jubir”. Perannya tidak hanya menerjemahkan percakapan dari bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia atau sebaliknya, tetapi memastikan informasi teknis, keselamatan kerja hingga pengetahuan dapat dipahami secara tepat oleh kedua pihak.
Kebutuhan terhadap translator telah muncul sejak awal pembangunan kawasan IMIP sekitar 2014. Seiring bertambahnya perusahaan dan berkembangnya teknologi pengolahan nikel, kebutuhan tenaga kerja yang mampu menguasai bahasa sekaligus memahami bidang teknis juga semakin meningkat.
Wakil Manajer Departemen General Affairs PT Eternal Tsingshan Indonesia, Fanny Viviansi, mengatakan standar kompetensi translator terus berkembang mengikuti kebutuhan masing-masing departemen.
“Selain mengerti apa perkataan lawan bicaranya, jubir dituntut pula mengerti konteks pekerjaannya dan mampu menyampaikan informasi secara akurat dan tepat,” ujar Fanny, Kamis (13/8/2026).
Menurut Fanny, proses rekrutmen translator dilakukan secara selektif. Kandidat tidak hanya dinilai berdasarkan kemampuan berbahasa Mandarin, tetapi juga pemahaman terhadap bidang teknis yang berkaitan dengan pekerjaan.
Hasil wawancara dan tes tertulis menjadi salah satu dasar penilaian kemampuan kandidat. Standar kemampuan bahasa Mandarin mengacu pada Hànyǔ Shuǐpíng Kǎoshì (HSK), dengan persyaratan minimal setara HSK level 4 atau 5.
Selain kemampuan bahasa, translator dituntut memahami perbedaan budaya kerja Indonesia dan Tiongkok. Pemahaman tersebut diperlukan agar pesan yang disampaikan tidak menimbulkan kesalahpahaman di antara TKA dan TKI.
Fanny menjelaskan, karakter komunikasi masyarakat Indonesia dan Tiongkok memiliki sejumlah perbedaan. Dalam budaya Tiongkok, hierarki peran menjadi salah satu hal yang diperhitungkan dan komunikasi dapat berlangsung lebih terbuka serta langsung. Sementara masyarakat Indonesia cenderung lebih mempertimbangkan perasaan dan relasi antarpribadi.
“Dalam praktik penerjemahan, translator diharapkan juga mampu menyaring dan memahami konteks dan lingkungan pembicaraannya. Menyaring isi-isi pesan yang hendak disampaikan dari bahasa Indonesia ke Mandarin, dan sebaliknya,” katanya.
Peran translator juga berkaitan langsung dengan keselamatan kerja. Dalam lingkungan industri manufaktur, kesalahan dalam menerjemahkan instruksi teknis dapat menimbulkan risiko sehingga akurasi komunikasi menjadi hal yang sangat penting.
Untuk menjaga kompetensi, PT Eternal Tsingshan Indonesia menerapkan evaluasi kemampuan bahasa secara berkala. Translator dapat mengikuti ujian kompetensi setiap tiga bulan untuk meningkatkan level kemahiran berbahasa.
Peningkatan kompetensi tersebut sekaligus membuka peluang pengembangan karier dan peningkatan tanggung jawab bagi translator di lingkungan kerja IMIP.
Dengan tuntutan kemampuan bahasa, pemahaman teknis dan kecakapan komunikasi lintas budaya, keberadaan translator menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung transfer pengetahuan, keselamatan kerja serta kolaborasi antara TKA dan TKI di kawasan industri nikel tersebut.(jir)








